Minggu, 16 Februari 2014
0 komentar

Banjir 2x di Jakarta (M. Hantigo Endrodewo)


Kejadian bencana alam banjir tidak sekali atau dua kali terjadi di kota Jakarta bahkan lebih, sedangkan di tempat lain di beberapa daerah juga mengalami hal sama, justru kebanyakan diikuti lumpur. Kalau di daerah musibah tersebut kebanyakan diakibatkan oleh terjadinya penggundulan hutan, atau penumpukan sampah di sungai. Penggundulan hutan merupakan masalah utama yang sulit dipecahkan, karena setiap kali melakukan operasi penebangan liar selalu lolos dari kejaran petugas. Bahkan seperti terjadi di beberapa pegunungan di Jawa timur sekitar tahun 2000-an terdapat penebangan hutan secara besar-besaran di lereng gunung Penanggungan, tanpa diketahui apakah itu sah atau tidak.


Jika dilihat penebangannya sangat merata tidak mungkin jika tanpa ijin pihak Perhutani, tapi bila dilihat aturan menebang pohon di hutan itu kurang sah. Sehingga dampaknya pun berimbas pada masyarakat korban bencana alam di Padusan Air Panas Pacet, Mojokerto pada tahun 2002, sekitar 32 orang tewas akibat banjir bandang bercampur lumpur serta batu. Pastinya kesulitan menangani penebangan hutan secara tidak terkontrol juga melibatkan beberapa oknum aparat keamanan setempat. Bukannya menuduh tapi memang kenyataan sistem berjalan demikian di lapangan, tidak perlu ditutupi.


Beberapa tahun lalu juga pernah terbongkar kasus illegal logging di Kalimantan secara besar-besaran dengan menyelundupkan melalui jalur Serawak. Belum lagi adanya kebakaran hutan baik sengaja maupun tidak sengaja dilakukan oleh sekelompok manusia bahkan perusahaan ternama. Kesalahan mereka membakar hutan untuk membuka lahan terlalu beresiko, akhirnya melahap lebih dari lahan yang mereka buka. Kadangkala perusahaan melakukan kenakalan untuk mendapatkan ijin membuka lahan lebih luas juga sengaja membakar hutan lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. selain dampak polusi udara juga berdampak pada satwa liar didalamnya, terlebih lagi jika musim hujan tiba pastinya air bah akan segera menggulungnya.


Penyebab-penyebab tersebut merupakan pekerjaan rumah yang belum juga ada penyelesaiannya. Memang perlu adanya pendidikan dini mengenai penyebab terjadinya banjir, juga pendidikan moral akan kepentingan bersama. Sebenarnya semua cara itu sudah dilakukan tapi sia-sia adanya, meski sudah paham dapat merusak alam tapi jika terkena uang semua dapat dilupakan seketika.


Banyak pura-pura tutup mata atau sekedar maling teriak maling, seperti terjadi musibah kebakaran di Riau ketika Malaysia dan Singapura. Kedua negara tersebut menuduh Indonesia akar masalah terjadinya polusi udara tinggi di negara-negara tersebut, kenyataannya kebakaran hutan tersebut terjadi akibat ulah delapan perusahaan besar salah satunya milik perusahaan Malaysia dan Singapura. Sama seperti musibah banjir yang sering terjadi, jangan sekedar menyalahkan siapa dalang dari semua ini tapi cobalah mencari solusi bersama. Tidak hanya pemerintah, seharusnya masyarakat juga memikirkan cara menanggulanginya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer
Top